Senin, 12 Okt, 2026

Kisah Haru Siswa SRMP 18 Lombok Barat, Fasilitas Sekolah Rakyat Bikin Mereka Menangis

Bagikan

Andalas Time,Lombok Barat – Dulu, cita-cita seolah menjadi sesuatu yang terlalu jauh bagi sebagian siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kehidupan yang penuh keterbatasan membuat mereka bahkan sulit membayangkan masa depan yang lebih baik.

Namun, suasana itu perlahan berubah. Kini, ketika ditanya tentang cita-cita, para siswa berani menyampaikan impian mereka. Ada yang ingin menjadi pengusaha kelapa sawit, ada pula yang bercita-cita mengabdi kepada negara sebagai tentara.

Momen penuh semangat itu terlihat saat Dewan Pengawas LKBN ANTARA, Ramadhan Pohan, mengunjungi SRMP 18 Lombok Barat, Minggu (11/10/2026).

“Jadi pengusaha sawit,” ujar seorang siswa dengan mantap.

“Jadi tentara,” timpal siswa lainnya.

Mendengar jawaban tersebut, Ramadhan Pohan langsung memberikan dorongan kepada para siswa agar tidak ragu mengejar impian.

“Oh, cocoklah. Postur kamu sudah mengarah ke tentara. Semangat belajar, raih cita-cita dan masa depan kalian,” ujar Ramadhan menyemangati siswa.

Percakapan sederhana itu menyimpan makna besar. Bagi anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan, keberanian menyebutkan cita-cita merupakan langkah awal untuk membayangkan kehidupan yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

Dari Gedung Nyaris Ambruk Menjadi Sekolah Harapan

Perjalanan SRMP 18 Lombok Barat menjadi bagian dari pelaksanaan program Sekolah Rakyat yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Program ini membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui pendidikan gratis dan fasilitas pendukung yang dirancang untuk membantu mereka belajar secara lebih layak.

Kepala Sentra Paramita, Arif Rohman, menjelaskan bahwa gedung yang kini digunakan sebagai sekolah rakyat rintisan di kawasan Mataram, Lombok, sebelumnya merupakan bangunan Sentra Paramita yang kondisinya memprihatinkan.

“Ini direhab oleh Kementerian PU, menjadikan gedung Sentra Paramita yang mau ambruk menjadi Sekolah Rakyat rintisan di Mataram, Lombok,” kata Arif.

Baca Juga :  Pembalap Asal Dari Venezuela Yonnata Alejandro Monsalve Ungguli Etape V TdS 2017

Menurut dia, persiapan sekolah dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Pihaknya harus mengebut berbagai tahapan, mulai dari penyiapan fasilitas hingga proses seleksi siswa dan sosialisasi kepada masyarakat.

Calon peserta didik berasal dari keluarga dalam kelompok desil 1 dan 2, yakni kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah dalam pengelompokan kesejahteraan masyarakat.

Arif menegaskan, pihaknya berupaya meyakinkan masyarakat mengenai manfaat program tersebut tanpa memaksakan anak-anak untuk bersekolah di Sekolah Rakyat.

Tantangan pada tahap awal bukan hanya menyiapkan bangunan dan perlengkapan belajar, melainkan juga membangun kepercayaan masyarakat bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu berhak memperoleh pendidikan dan kesempatan masa depan yang lebih baik.

Siswa Menangis Melihat Fasilitas Sekolah

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai pada 23 Juli 2025. Saat itu, gedung yang digunakan masih menyimpan cerita tentang keterbatasan, sementara penyelenggara harus bekerja keras memperkenalkan program baru kepada masyarakat.

Kepala SRMP 18 Lombok Barat, Satria, mengungkapkan bahwa respons para siswa ketika pertama kali mengetahui fasilitas yang tersedia di Sekolah Rakyat menjadi pengalaman yang membekas.

“Siswa begitu tahu fasilitas Sekolah Rakyat yang digariskan Pak Presiden, siswa di sini menangis semua. Pasalnya, dalam kehidupan keseharian mereka, bermimpi pun tidak atas semua yang ada di sekolah ini,” ujar Satria.

Tangis tersebut menggambarkan betapa jauhnya fasilitas pendidikan yang mereka terima dari pengalaman hidup sehari-hari sebelumnya.

Di sekolah ini, para siswa memperoleh fasilitas asrama atau *boarding school*, kamar beserta perlengkapannya, perangkat belajar berupa tablet, seragam sekolah, serta makanan untuk kebutuhan sehari-hari.

Mereka juga mendapatkan meja belajar dan berbagai sarana pendukung kegiatan pembelajaran di kelas maupun lingkungan sekolah.

Fasilitas itu bukan sekadar pelengkap pendidikan. Bagi anak-anak yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, tersedianya tempat tinggal, perlengkapan belajar, pakaian sekolah, dan makanan dapat membantu mereka mengikuti pendidikan dengan lebih terarah.

Baca Juga :  Ketua Umum PPP OTT KPK, Cawapres Sandiaga Uno Prihatin

Pendidikan sebagai Jalan Keluar dari Kemiskinan

Dalam kunjungan tersebut, Dewan Pengawas LKBN ANTARA lainnya, Wicaksono, turut menyoroti pentingnya Sekolah Rakyat dalam memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Anak miskin sekolah gratis, tinggal di asrama, diajar oleh pengajar mumpuni. Dan baru di era Pak Prabowo ada program luar biasa humanisnya,” ujar Wicaksono.

Pernyataan itu menyoroti pendekatan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar, tetapi juga memperhatikan kebutuhan dasar siswa selama menempuh pendidikan.

Bagi keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi, biaya pendidikan, kebutuhan makan, seragam, dan transportasi dapat menjadi beban tersendiri. Dukungan fasilitas yang disediakan Sekolah Rakyat diharapkan dapat membantu mengurangi hambatan tersebut.

Meski demikian, keberhasilan program tidak berhenti pada tersedianya gedung dan perlengkapan. Kualitas pengajaran, pendampingan siswa, serta keberlanjutan pendidikan juga menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak memperoleh bekal untuk masa depan.

Pesan Ramadhan Pohan: Jangan Takut Bermimpi

Di hadapan para siswa, Ramadhan Pohan bersama Adrian Tuswandi menyampaikan pesan agar anak-anak memanfaatkan kesempatan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan dan meraih cita-cita.

“Pak Presiden tahu, satu dari banyak program pemberantasan kemiskinan adalah pendidikan. Semangat anak-anak bangsa, di Sekolah Rakyat gapailah cita-cita kalian,” ujar Ramadhan Pohan dan Adrian Tuswandi dalam pesan motivasi mereka.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa keterbatasan ekonomi tidak semestinya membatasi kesempatan anak-anak untuk merancang masa depan.

Seorang siswa boleh bermimpi menjadi pengusaha kelapa sawit. Siswa lainnya boleh bercita-cita menjadi tentara. Impian yang berbeda itu bertemu pada satu harapan: memperoleh kesempatan belajar dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Dari gedung yang sebelumnya nyaris ambruk, SRMP 18 Lombok Barat kini menjadi tempat anak-anak menumbuhkan keberanian untuk bermimpi. Perjalanan mereka masih panjang, tetapi setidaknya satu langkah penting telah dimulai: mereka tidak lagi takut menyebutkan cita-cita.

Baca Juga :  Lebaran Tahun Ini Boleh Mudik Lokal, Budi Setiyadi: Hanya Beberapa Wilayah

Sebab, bagi anak-anak yang dahulu bahkan sulit membayangkan masa depan, keberanian untuk bermimpi merupakan awal dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang mereka harapkan.(**)