Cerita Relawan yang Butuh Uluran Tangan dan Peran GAPEMBI

Andalaspos,Sumbar – Hujan deras yang mengguyur Kota Padang bukan hanya merendam ribuan rumah. Banjir itu juga menyapu habis rutinitas dan rasa aman banyak warga, termasuk para relawan yang selama ini bertugas membantu masyarakat. Sebut saja A, seorang relawan Makan Bergizi (MBG) adalah salah satu di antara mereka.

Rumah A di kawasan Koto Tangah terendam hingga sepinggang. Ia memindahkan istri dan dua anaknya ke rumah keluarga. Tidak sempat menyelamatkan pakaian maupun perabot, A kemudian menyusuri jalan yang masih penuh lumpur untuk bergabung kembali dengan relawan lain di dapur umum.

“Kalau saya tinggal di rumah saja, saya tambah stres. Di dapur, saya masih bisa bantu orang. Itu yang bikin saya kuat,” ujarnya lirih saat ditemui di Padang, Sabtu (29/11).

A bukan satu-satunya relawan GAPEMBI yang menjadi korban. Banyak dari mereka berjuang dalam dua front sekaligus: menjaga keluarganya tetap aman, sekaligus memastikan warga lain yang lebih terdampak tetap mendapat makanan bergizi.

Kesadaran akan kondisi itu mendorong DPP GAPEMBI memberikan bantuan senilai Rp100 juta untuk para relawan MBG yang terdampak banjir dan bencana alam lain. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum DPP GAPEMBI Alven Stony, disaksikan Ketua GAPEMBI Sumatera Barat Agung Adhitia Lingga.

“Relawan kita bekerja tanpa pamrih, bahkan ketika keluarga mereka sendiri ada yang terdampak. Bantuan ini adalah wujud solidaritas kami kepada mereka,” kata Alven dalam prosesi penyerahan yang berlangsung sederhana dan penuh haru.

Bagi A, bantuan itu bukan sekadar angka. “Saya merasa dilihat. Biasanya relawan cuma mikirin orang lain. Tapi hari ini, organisasi juga mikirkan kami,” katanya, matanya berkaca-kaca. Ia mengaku donasi itu akan dipakai membantu keluarganya memperbaiki rumah dan membeli kebutuhan dasar.

Agung menegaskan bahwa relawan adalah tulang punggung seluruh operasi kemanusiaan GAPEMBI di lapangan. “Bencana besar seperti ini tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tapi juga mental. Bantuan ini memberi mereka tenaga tambahan,” ucapnya.

Sejak dua hari sebelum penyerahan donasi itu, GAPEMBI bersama Pemerintah Kota Padang telah mengoperasikan dapur-dapur umum besar di seluruh penjuru kota. Sebanyak 60.000 porsi makanan bergizi didistribusikan ke 27.433 warga terdampak di sembilan kecamatan, mulai dari Koto Tangah, Nanggalo, Pauh, hingga Kuranji.

A adalah salah satu dari puluhan relawan yang bertugas mempersiapkan menu, mengemas nasi, dan mengantarkan langsung makanan ke lokasi-lokasi yang aksesnya terputus.

“Kami harus mengangkat boks makanan sambil nyebrang genangan lumpur. Tapi begitu lihat warga menyantapnya, rasa capek hilang,” kata A.

Sejumlah aparatur kelurahan menyatakan makanan dari jaringan dapur GAPEMBI datang pada saat warga benar-benar kehabisan bahan pangan. Banyak warga menyebut makanan itu sebagai “napas penyambung hari” sambil menunggu bantuan pemerintah mengalir merata.

Pada Kamis (27/11), Wali Kota Padang Fadly Amran menginstruksikan agar dapur SPPG dialihkan menjadi dapur umum darurat. Sekolah sedang diliburkan, sehingga fasilitas dapur dimaksimalkan untuk kebutuhan warga.

“Makanan yang biasanya disiapkan untuk siswa kini kami fokuskan untuk pengungsi,” kata Fadly.

Instruksi itu direspons cepat oleh GAPEMBI Sumbar. Sebanyak 46 dapur SPPG dikerahkan penuh, ditambah seluruh dapur anggota GAPEMBI. Produksi makanan dilakukan sejak pagi dengan standar nutrisi yang sama seperti sajian sekolah.

“Yang kami pikirkan sederhana: warga butuh makan, dan kami punya kemampuan menyediakan makanan bergizi dalam jumlah besar,” ujar Agung.

Di tengah sistem yang bekerja masif tersebut, cerita-cerita seperti A menegaskan bahwa kerja kemanusiaan selalu bertumpu pada manusia bukan hanya organisasi.

A mengaku akan tetap berada di dapur umum beberapa hari ke depan sebelum kembali menangani rumahnya. “Rumah bisa diperbaiki nanti. Tapi orang-orang ini butuh makan hari ini,” katanya.

Bagi GAPEMBI, kisah A adalah wajah dari komitmen organisasi: memastikan kebutuhan darurat warga terpenuhi, sambil menjaga agar para relawan tetap berdiri tegak di tengah bencana yang juga menimpa mereka.

“Relawan adalah energi dari seluruh gerakan ini,” kata Alven. “Jika mereka kuat, maka banyak orang bisa tertolong.”

Dengan bantuan bagi relawan dan distribusi puluhan ribu porsi makanan, GAPEMBI menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penyedia makanan bergizi, tetapi simpul solidaritas yang hidup di tengah masyarakat bahkan ketika badai datang menyapu kota. (*)

Pos terkait