Rabu, 19 Agu, 2026

Fadly Amran: Saat NTT Berduka, Minangkabau Hadir dengan 5 Ton Rendang

Bagikan

Andalaspos,Padang – Aroma rempah dan santan yang menguar dari dapur pengolahan rendang di Kantor Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Senin (17/8/2026), membawa pesan kemanusiaan yang melampaui batas daerah.

Di tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat Minangkabau memilih mengisi momentum tersebut dengan aksi nyata untuk membantu saudara-saudara mereka yang sedang menghadapi bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Wali Kota Padang sekaligus Ketua DPW Gebu Minang Sumbar, Fadly Amran, hadir langsung dalam kegiatan memasak rendang yang digelar LKAAM Sumbar bersama Gebu Minang Sumbar tersebut.

Tidak sekadar memasak, kegiatan itu menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan untuk menyiapkan 5 ton rendang bagi masyarakat terdampak gempa bumi NTT yang terjadi pada 15 Agustus 2026.

Gempa tersebut menimbulkan korban jiwa serta menyebabkan kerusakan pada rumah warga dan sejumlah infrastruktur. Kondisi itu mendorong berbagai unsur masyarakat Minangkabau bergerak mengumpulkan bantuan.

Fadly Amran meminta gerakan tersebut dipercepat dengan memanfaatkan Sentra Rendang Kota Padang. Pemerintah Kota Padang, kata dia, siap memberikan dukungan agar target 5 ton rendang dapat segera diwujudkan.

“Kita patut memberikan apresiasi kepada Gebu Minang Sumbar dan LKAAM Sumbar yang begitu cepat mengambil langkah untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Ini merupakan bentuk kepedulian para niniak mamak kepada anak kemenakan yang sedang menghadapi musibah,” ujar Fadly.

Menurut Fadly, kepedulian terhadap korban bencana tidak cukup hanya diwujudkan melalui rasa simpati. Musibah dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga solidaritas harus diterjemahkan menjadi tindakan konkret.

Ia pun mengajak berbagai elemen masyarakat di Sumatera Barat untuk ikut mendukung gerakan kemanusiaan tersebut.

Baca Juga :  Kelangkaan Pupuk Subsidi Mulai Terjadi, Anggota DPRD Sumbar Emdarmy Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan

“Kami juga mengajak berbagai pihak di Sumbar untuk bersama-sama mendukung gerakan kemanusiaan ini. Ketika Kota Padang mengalami gempa bumi pada 2009 dan bencana hidrometeorologi pada 2025 lalu, banyak pihak yang datang membantu. Karena itu, saat saudara-saudara kita di NTT menghadapi musibah, sudah sepatutnya kita hadir dan memberikan bantuan,” katanya.

Bagi Fadly, bantuan rendang bukan hanya soal makanan. Di balik setiap proses memasak, terdapat pesan persaudaraan yang ingin disampaikan masyarakat Minangkabau kepada para korban bencana.

“Ketika bencana terjadi, tentu kita harus mengikhlaskan bahwa ini adalah sebuah cobaan. Setelah itu, kita harus bekerja keras dan berupaya meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak. Inilah esensi dari pertemuan kita pada hari ini,” tutur Fadly.

700 Kilogram Sudah Dikirim

Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar mengatakan, gerakan tersebut telah membuahkan hasil awal. Sebanyak 700 kilogram rendang telah dikirim melalui penerbangan TNI Angkatan Udara untuk selanjutnya disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana di NTT.

Pengiriman awal tersebut menjadi bagian dari target besar 5 ton rendang yang akan dikirim secara bertahap.

“Target kita sebanyak 5 ton rendang, dan akan kita kirim secara bertahap. Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana di NTT,” kata Fauzi.

Pemilihan rendang sebagai bantuan juga bukan tanpa alasan. Makanan khas Minangkabau itu dikenal memiliki daya tahan relatif lama, siap santap, serta praktis dibawa dan dikonsumsi di lokasi bencana.

“Kita memilih rendang karena merupakan makanan yang siap santap, tahan lama, dan praktis dikonsumsi oleh warga di lokasi bencana. Mudah-mudahan bantuan ini dapat bermanfaat, dan menjadi bagian dari kepedulian masyarakat Minangkabau untuk saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah,” ujarnya.

Baca Juga :  Safari Ramadan Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri di Kuranji, Beri Bantuan Rp 50 juta dan Mushaf Al Qur'an

Gerakan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat Minangkabau, di antaranya pengurus LKAAM Sumbar, Gebu Minang Sumbar, Bundo Kanduang, Himpunan Pengusaha Randang Minangkabau (Hipermi), serta Gebu Minang Peduli.

Keterlibatan banyak unsur itu memperlihatkan bahwa dapur rendang kali ini bukan sekadar tempat mengolah makanan, melainkan menjadi ruang gotong royong untuk mengirimkan kepedulian dari Sumatera Barat ke NTT.

Dari tungku-tungku rendang di Ranah Minang, bantuan itu diharapkan segera sampai ke tangan masyarakat yang tengah menghadapi dampak bencana.

Bagi Fadly Amran, semangat tersebut merupakan bagian dari nilai yang sejak lama hidup dalam masyarakat Minangkabau: ketika ada saudara yang tertimpa musibah, maka yang lain ikut berdiri dan membantu meringankan bebannya.(**)