free stats

Malamang Sakampuang Tradisi Minang Untuk Ciptakan Kebersamaan Membangun

Padang AP– Malamang adalah tradisi yang dilakukan Ibu-ibu di Ranah Minang setiap akan memasuki hari-hari besar Islam, seperti hendak masuk bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi. Biasanya malamang dilakukan sehari sebelum hari H.
Malamang berasal dari kata Lamang atau Lemang, yaitu penganan dari ketan yang dimasak bersama santan dan dikemas dalam bambu kemudian dimasak dengan perapian atau unggun yang sengaja dibuat untuk itu.

Pada memasuki bulan ‘Mamagang'(sebutan untuk bulan Mulud atau Rabiul Awal) bagi masyarakat Ranah Minang tradisi malamang sudah mulai dilakukan pada hari ke 10 atau kesebelas di bulan itu, sehari sebelum tanggal 12 dimana hari itu merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw.

Di Aia Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, tradisi malamang biasa dilakukan masyarakat secara massal atau disebut malamang sakampuang. Malamang sakampuang dilakukan oleh saat menghadapi kegiatan besar seperti halnya di daerah lain di Minangkabau yakni merayakan maulid di masjid.
Lamang yang sudah matang nantinya akan menjadi suguhan bagi jamaah yang hadir termasuk para pejabat pemerintah yang diundang.

Tradisi ini memang telah jarang dilakukan, apalagi di ibukota Provinsi Sumatera Barat yang semakin metropolis. Hanya perhatian pemerintah dan tokoh masyarakat yang mampu menghidupkan tradisi ini agar tetap bertahan.
Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah adalah salah satu dari pemimpin yang peduli dengan pelestarian tradisi dan budaya kearifan lokal. Selain menghidupkan tradisi melalui festival, Mahyeldi juga tidak jarang mendorong masyarakat agar mempertahankan budaya yang baik.

Seperti siang itu, Sabtu (30/12/2017), Walikota Mahyeldi mengunjungi masyarakat Aia Pacah yang tengah mengadakan malamang sakampuang. Dia tidak sungkan ikut membaur membolk-balik perapian agat serta membuka bambu lamang seraya menyicip lamang yang telah matang.
Masyarakat sangat antusias dengan kehadiran walikota. Kehebohan seketika terjadi karena ramainya masyarakat yang minta berfoto dengan pemimpinnya.

Khalil Caniago, tokoh pemuda setempat, mengapresiasi pethatian Walikota Padang terhadap tradisi masyarakat. Sebagai generasi muda, dia merasa perlu menghadirkan kembali tradisi malamang yang saat ini sudah jarang dilakukan masyarakat.
“Selaku generasi muda, kami ingin mewarisi tradisi yanh baik ini, sebab falam tradisi malamang terdapat semangat persatuan, kebersamaan dan kekompakan,” kata Khalil. (hms)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *