Rabu, 30 Sep, 2026

Saluang Pauh ke Musik Digital, Kreasikan Pado-Pado di Saraso Fest 2026

Bagikan

Andalaspos,Padang – Musik tradisional Minangkabau tak hanya berhenti pada bentuk penyajian lama. Di tangan Komposer Muda asal Kota Padang, Dimas Hidayatullah, tradisi Saluang Pauh justru dibawa masuk ke ruang musik digital tanpa kehilangan identitas aslinya.

Kreasi itu ditampilkan Dimas bersama empat rekannya dalam Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat (Sumbar) Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumbar, Selasa (29/9/2026), malam.

Lewat karya berjudul “Pauh in Resonance”, Dimas mengambil repertoar Saluang Pauh “Pado-Pado” yang berasal dari Kecamatan Kuranji, Kota Padang, sebagai sumber utama komposisinya.

Penampilan diawali dengan karakter bunyi Saluang Pauh yang kuat. Motif Pado-Pado kemudian dikembangkan secara bertahap. Unsur elektronik mulai masuk, membentuk lapisan suara baru hingga membawa musik tradisional tersebut ke nuansa musik tekno dan digital.

Perubahan itu bukan untuk menggantikan karakter Saluang Pauh, melainkan memperluas ruang ekspresinya. Motif tradisional tetap menjadi fondasi, sementara teknologi digital digunakan untuk menciptakan pengulangan, tekstur, gema, serta warna bunyi yang lebih modern.

Dimas mengatakan tidak mengubah motif dasar Pado-Pado dalam karya tersebut. Ia memilih mengembangkan motifnya dan mempertemukannya dengan musik elektronik.

“Tidak ada yang dirubah, hanya motifnya yang dikembangkan yaitu Saluang Pauh, Pado-Pado dari Kecamatan Kuranji Kota Padang saya kombinasikan dengan musik tekno,” kata Dimas.

Konsep “Pauh in Resonance” menggunakan pendekatan World Electronic Music. Dalam proses penciptaannya, Dimas mengeksplorasi sampling, looping, delay, reverb, dan filtering untuk mengolah karakter suara Saluang Pauh ke dalam lanskap musik digital.

Dengan pendekatan tersebut, Pado-Pado tidak disajikan hanya sebagai repertoar tradisional. Motifnya menjadi bahan eksplorasi untuk membangun komposisi baru yang mempertemukan dua dunia, yakni kekuatan musik tradisi Minangkabau dan teknologi musik modern.

Baca Juga :  Dari Upacara Hingga Ziarah ke Rumah Kelahiran, Maigus Nasir Kobarkan Semangat Bagindo Aziz Chan untuk Padang

Dimas menyebut proses penggarapan karya tersebut berlangsung sekitar dua bulan. Tantangan utamanya bukan pada pencarian konsep, melainkan membagi waktu di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP).

“Saya menyusun ini dua bulanan kurang lebih. Kesulitan hanya waktu. Karena saya punya kesibukan lain,” ujarnya.

Karya tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana musik tradisional dapat dikreasikan dengan pendekatan baru. Saluang Pauh tetap menjadi identitas musikal, namun penyajiannya diberi ruang untuk berdialog dengan teknologi dan selera musik masa kini.

Melalui “Pauh in Resonance”, Dimas membawa Pado-Pado dari ruang tradisi menuju ruang digital, memperlihatkan bahwa musik tradisional dapat terus berkembang tanpa harus kehilangan akar budayanya.(**)